TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

DBD Meningkat Tajam, Dinkes Ngawi Lakukan Siaran Keliling 

12/01/2019 - 16:56 | Views: 2.36k
Tim Dinkes Ngawi saat melakukan pencegahan DBD. (FOTO: Ardian Febri/TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, NGAWI – Akhir tahun ini,  Kabupaten Ngawi dikejutkan dengan peningkatan angka penderita dengan diagnosa akibat gigitan nyamuk aedes aegypti. Sementara informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi (Dinkes Ngawi) selama dua bulan terakhir, yakni Desember 2018 hingga awal tahun 2019 terjadi peningkatan angka penderita demam berdarah dengue (DBD).

Diungkapkan Jaswadi, Kasi P2PM Dinkes Ngawi, selama rentang waktu November–Desember 2018, jumlah penderita DBD mencapai lebih dari 200 pasien, baik anak maupun dewasa. 

Data ini tercover oleh dinas dikarenakan penderita tengah dalam penanganan petugas kesehatan, belum yang menjalani rawat jalan hal itu belum bisa pihaknya laporkan. 

Di lain sisi, jelasnya, jumlah penderita demam berdarah yang berada di tiga rumah sakit baik milik pemerintah daerah maupun swasta yang ada di Ngawi hingga kini belum terdeteksi jumlah pasien. Mengingat yang tahu persis jumlah penderita demam berdarah hanya manajemen rumah sakit sendiri.

 “Meningkatnya kerjasama data ini setelah adanya kesepakatan secara dasar hukum pihak rumah sakit yang sebelumnya agak sulit melaporkan data sekarang sudah mau melaporkan data-datanya,” tambah Jaswadi.

Terdata di tahun 2016 jumlah penderita tidak lebih dari dari angka 600, pada 2017 alami peningkatan jumlah yang signifikan namun belum menembus angka 700, di tahun 2018 alami penurunan dikarenakan siklus cuaca dengan rentang bulan Januari–Oktober. 

Namun, memasuki di bulan November jumlah penderita Dengue Shock Syndrome mulai alami peningkatan mencapai 700 pasien lebih.

“Dari tahun ke tahun jumlah penderita alami peningkatan dan penyumbang penderita terbanyak kasus demam berdarah itu paling banyak dua bulan terakhir,” tegas Jaswadi.

Penyakit yang menjadi perhatian dan kewaspadaan ini dikarenakan penyebaran melalui nyamuk sehingga sulit diidentifikasi. Tindakan pencegahan dengan fooging pun tidak serta merta memberantas, pasalnya jentik tidak ikut mati saat dilakukan pengasapan.

Langkah persuasif yang dilakukan oleh Dinkes Ngawi, dalam mengatasi penyebaran penyakit DBD yakni menggiatkan sosialisasi keliling.

Tidak hanya menyasar daerah-daerah endemik rentan dengan penyakit demam berdarah seperti halnya Kecamatan Ngawi kota, Kecamatan Kedunggalar  dan Kecamatan Widodaren. Namun secara serentak di wilayah Dinkes Ngawi, dengan harapan bisa menyasar ke khalayak publik.

“Kegiatan siaran keliling ini kami laksanakan secara serentak di semua jajaran puskesmas di lingkup Dinkes Ngawi. Tujuannya masyarakat sadar akan kesehatan dan angka penyakit DBD bisa turun,“ kata Jaswadi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Ardian Febri TH (MG-159)
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Madiun
Copyright © 2019 TIMES Jatim
Top

search Search