TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ekonomi

September 2018 Deflasi Kota Probolinggo Turun 

11/10/2018 - 19:54 | Views: 1.49k
Salah satu aktifitas perekonomian di sudut pasar baru Kota Probolinggo, Jawa Timur. (FOTO: Happy L. Tuansyah/TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, PROBOLINGGO – Per September 2018, Kota Probolinggo secara umum mengalami deflasi sebesar 0,32 persen. Deflasi ini terjadi, karena dari 7 kelompok pengeluaran 3 kelompok mengalami deflasi, 2 kelompok mengalami inflasi dan 2 kelompok tidak mengalami perubahan.

Kasi Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS), Mochammad Machsus mengatakan, komoditas yang memberikan sumbangan deflasi terbesar berasal dari barang kebutuhan sehari-hari. Yaitu daging ayam ras, tomat sayur, daging sapi, daging ayam kampung, minyak goreng, cabai merah, kopi bubuk, semangka, gula pasir dan bawang merah.

Machsus juga menjelaskan, beberapa komoditas penyumbang inflasi. Diantaranya adalah jeruk, ayam nugget, emas perhiasan, tahu  mentah, kentang, bawang putih, mobil, rokok kretek filter, susu balita dan tempe.

 

“Dari beberapa Kota di Jawa Timur, yang menjadi Kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional, 5 kota mengalami deflasi. Deflasi terkecil terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,05 persen, disusul Kota Madiun sebesar 0,12 persen, Kota Malang sebesar 0,31 persen, Kota Probolinggo sebesar 0,32 persen dan Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,49 persen,” jelas Machsus, Kamis (11/10/2018).

Sebagai informasi, laju inflasi Januari sampai September 2018, Kota Probolinggo mengalami inflasi 0,90 persen. Sedangkan laju inflasi year on year atau September 2017 hingga September 2018, Kota Probolinggo sebesar 1,70 persen.

Terkait fenomena itu, Kabag Administrasi Perekonomian, Wawan Soegyantono menyebut, Pemkot Probolinggo terus berupaya mengendalikan inflasi tersebut. Namun demikian, ada beberapa hal yang mengalami deflasi yaitu untuk komoditas tomat mengalami penurunan harga.

Upaya yang dimaksud yaitu melakukan sosialisasi, pelatihan dan pembinaan kepada kelompok tani. Agar produk tersebut bisa menambah nilai ekonomis. “Pada posisi deflasi lebih bijak dalam berkonsumtif dan jangan berlebih – lebihan,” ujar Wawan.

Sementara itu, Perwakilan BI Malang, Yon Widiyono sangat mengapresiasi TPID Kota Probolinggo. Karena selama tahun 2018, pencapaian inflasi relatif rendah dan terkendali. Tapi, memang kami mendengar ada masalah di 2 bulan terakhir deflasi. Yaitu harga barang yang dialami petani turun.

“Kami juga mendengar upaya – upaya yang yang dilakukan oleh pihak Pemkot Probolinggo. Yang menerapkan hilirisasi. Menjadikan produk hasil olahan pertanian dan menyalurkan produk kepada industri yang butuh,” kata Widyono.

Pemkot Probolinggo berharap, masyarakat diimbau untuk bijak dan cerdas dalam berbelanja. Apabila ada lonjakan harga pada produk yang ingin dibeli, setidaknya bisa dicari penggantinya. Dengan produk lain yang kegunaannya sama. Tindakan semacam ini, merupakan upaya stabilisasi harga secara otomatis. (*)

Jurnalis : Happy Lailatuansyah
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Probolinggo
Copyright © 2018 TIMES Jatim
Top

search Search