TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Pendidikan

Minta Keadilan, Wali Murid Siswa SDN 2 Patoman Surati Kapolres Banyuwangi

15/03/2019 - 19:28 | Views: 3.87k
Surat wali murid SDN 2 Patoman, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, dalam mencari keadilan atas kasus yang menimpa anak-anaknya, kepada Kapolres setempat. (Foto : Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, BANYUWANGI – Perwakilan wali murid SDN 2 Patoman, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, surati Kapolres setempat, Jumat (15/3/2019). Mereka meminta keadilan atas aksi pencukuran asal-asalan atau ‘pethal’ hingga ada yang terluka yang dilakukan oknum guru terhadap 20 lebih siswa.

“Ini usaha kami mencari keadilan, dan kami meminta oknum guru pelaku pencukuran bisa dihukum berat, karena ada siswa yang sampai terluka,” ucap Yulis, salah satu wali murid.

Kamis kemarin (14/3/2019), pihak sekolah dan Polsek Rogojampi, telah mengusahakan penyelesaian secara mediasi. Namun pihak wali murid dengan tegas menolak.

Dan penolakan dari para orang tua siswa tersebut memang cukup wajar. Sebagai bentuk klimaks kekecewaan terhadap sikap oknum guru yang dengan sengaja mementahkan hasil mediasi pertama.

“Dulu kan sudah mediasi, dan kita sudah legowo memaafkan perbuatan para oknum pencukur, di situ dihadiri Kepala Desa Patoman dan Kepala Sekolah SDN 2 Patoman, hasilnya kita damai, tapi hasil mediasi tersebut dikhianati oleh oknum guru, jadi apakah salah jika kami menempuh keadilan?,” ungkapnya.

Disebutkan, selain adanya pengkhianatan hasil mediasi damai pertama oleh oknum guru, alasan para wali murid SDN 2 Patoman mencari keadilan ke Kapolres Banyuwangi, lantaran pasca pencukuran asal-asalan anak-anak mereka tertekan secara psikis. Bahkan, salah satu siswa yang terluka bagian kepala akibat terkena gunting sampai ketakutan masuk ke sekolah.

“Apalagi sekarang, main di sekitar rumah saja anak kami malu, berangkat dan pulang saja minta antar jemput dan mempunyai rasa takut,” imbuh Yulis.

Sementara itu, Mustono, wali murid lain, juga menyesalkan langkah pihak sekolah dalam mengusahakan proses penyelesaian mediasi, Kamis kemarin. Di situ, para siswa secara sepihak dipulangkan pada jam pelajaran oleh pihak sekolah.

“Anak-anak kami disuruh pulang pada jam pelajaran, lalu anak-anak kami itu yang disuruh menyampaikan ke orang tua untuk datang ke sekolah. Masak sekolah yang merupakan lembaga pemerintah di bidang pendidikan bisa melakukan acara yang melibatkan orang tua dengan cara itu, prosedur administrasi saja tidak dilakukan,” katanya.

Seperti diberitakan, pencukuran asal-asalan terhadap 20 an siswa SDN 2 Patoman ini terjadi pada Jumat, 8 Maret 2019 lalu. Saat para siswa tengah mengikuti pelajaran ekstra kurikuler silat Persaudaraan Setia hati Terate (PSHT). Arya Abri Sanjaya, oknum guru olahraga memerintahkan tiga pelatih PSHT untuk mencukur rambut para siswa.

Padahal, menurut keterangan para wali murid, kala itu potongan rambut siswa sudah model 321 atau cepak. Karena sebelumnya pihak sekolah juga memang sudah meminta orang tua untuk merapikan rambut buah hatinya.

Karena merasa rambut anaknya sudah pendek tapi tetap dicukur asal-asalan, maka muntablah para wali murid. Terlebih salah satu siswa ada yang sampai terluka akibat terkena gunting.

Spontanitas, para orang tua menyerbu sekolahan dan selanjutnya dilakukan mediasi, dengan menghadirkan Kades Patoman dan Kepsek SDN 2 Patoman. Pada Jumat malam itu juga, disepakati para pihak saling berdamai dan memaafkan. Hingga akhirnya, guru Arya mengkhianati hasil mediasi damai tersebut.

Namun sayang, hingga kini guru Arya masih enggan berkomentar. Baik terkait alasan dan dasar dia mengeluarkan perintah sepihak pencukuran asal-asalan kepada tiga orang pelatih ekstra kurikuler PSHT di SDN 2 Patoman, Banyuwangi maupun alasan dia mementahkan hasil mediasi pertama yang disepakati damai. Pertanyaan wartawan melalui pesan hanya dibaca tanpa diberi jawaban. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Syamsul Arifin
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Banyuwangi
Copyright © 2019 TIMES Jatim
Top

search Search