TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Ekonomi

Tak Ingin Indonesia Jadi Pasar Asing, Mendag RI Ajak API Kuasai Pasar Domestik

14/09/2018 - 18:54 | Views: 1.22k
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESJATIM, BANDUNGMendag RI Enggartiasto Lukita mengatakan, salah satu cara untuk melindungi pasar tekstil di Indonesia dari gempuran perang dagang Amerika Serikat - Tiongkok yakni dengan cara memenuhi pasar tekstil domestik.

Untuk itu dia menekankan agar Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) harus bisa memenuhi tekstil di pasar domestik Indonesia.

"Kaitannya perang dagang AS dengan RRT pada saat ini memang tidak memberikan efek apa-apa. Tetapi secara tidak langsung arus barang akan masuk. Walaupun sedikit," katanya di Kawasan Juanda, Bandung, Jumat (14/9/2018).

"Satu-satunya cara menghentikan itu adalah memenuhi pasar domestik oleh produk Anda. Saya akan berusaha menutup barang mereka," kata dia.

Dia kembali menegaskan kepada para pengusaha tekstil Indonesia untuk mengisi pasar tekstil. Sebab, apabila pasar tekstil tidak bisa dipenuhi produk lokal, maka dia pun tak bakal bisa untuk terus membendung impor.

"Harus, kudu, wajib isi. Kalau Anda gak bisa mengisi, saya buka kran impor. Sejauh ini saya akan berusaha," katanya.

Selain itu, Enggar juga memastikan pemerintah melalui lintas kementerian dan lembaga bakal mendukung dan memberikan kemudahan pada Industri tekstil dan produk tekstil dalam hal ekspor ke pasar global.

"Kami sangat dukung. Siapapun menterinya akan bantu dan saya tidak akan mungkin sendiri. Ada Menperin, KLHK, dan siapapun terkait, BKPM, bagaimana kita bantu dorong," katanya.

"Kebutuhannya apa, fasilitas apa iklim peraturan usaha seperti apa yang diperlukan untuk capai target ekspor menangkat 30 Milyar dollar lagi (kita tinggu Road Map nya dari Asosiasi) tapi juga penuhi (pasar) dalam negeri," imbuhnya.

Sementara, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Luar Negeri Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang juga Wakil Presiden Direktur PT Pan Broters Tbk, Anne Patricia Sutanto mengatakan untuk bisa menggenjot produksi Industri TPT ini diperlukan adanya kebijakan dan peraturan. Diantaranya yakni kemudahan akses Pasar, terjaga iklim usaha yang kondusif.

Menurut dia, apabila hal itu bisa terpenuhi, maka target peningkatan produksi bisa terwujud.

"Nilai Ekspor Produksi TPT Indonesia bisa meningkat, Kapasitas Produksi Naik dan Juga Penyerapan tenaga kerja makin luas," katanya.

Dia optimis, Industri TPT Indonesia bakal bisa mengisi pasar domestik dan juga pasar global.

Dilokasi yang sama, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudradjat mengatakan saat ini kebutuhan tekstile pasar domestik masih mengandalkan asupan dari Impor. Hal tersebut lantaran Industri Tekstile Indonesia belum mampu mencukupinya.

"Yang bisa di isi cuma 60 juta orang, Sisanya masih diimpor," katanya.

Padahal untuk kebutuhan aslinya yakni sekitar 1.690 Ton. "Kita naik dari perkapita 4,5 kg, sekarang 6,5 kg. Dikali 260 juta berapa juta ton? Itu real kebutuhan kita," katanya.

Oleh karena itu dia mengajak seluruh pengusaha tekstile yang tergabung dalam API, untuk meningkatkan produktifitas dan pengisian di pasar lokal, namun tetap juga menguasai pasar global. Sebab, saat ini permintaan dari pasar dunia terus naik.

"ekspor kita dua tahun terakhir juga naik terus. 2017 naik 5%, 2018 naik 8%. Dimana sebelumnya tidak pernah meningkat. 70% produksi diekspor, dalam negeri 30%. (Ke depan) Kami mau isi 100% (Pasar Lokal). Ekspor juga tingkatkan," katanya. 

Untuk peningkatan produktifitas, kata dia, Pengusaha bisa ikut program Vokasi yang dicanangkan Pemerintah melalui Kemenperin. "Ini adalah satu hal produktif sehingga daya saing kita mengangkat dengan baik," kata dia. (*)

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Jatim
Top

search Search